Sunday, April 8, 2007

POLA JARINGAN KOMUNIKASI PADA KELOMPOK TANI DALAM ADOPSI INOVASI TEKNOLOGI PENGOLAHAN KELAPA TERPADU

( Kasus Di Desa Langensari Kecamatan Langensari Kabupaten Banjar Jawa Barat Tahun 2005 )

PENDAHULUAN
Secara sederhana, definisi jaringan komunikasi adalah ”siapa berbicara dengan siapa atau kepada siapa” (Beebe dan Masterson, 1994). Selanjutnya De Vito (1997), mendefinisikan jaringan komunikasi sebagai suatu saluran atau jalan tertentu yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orang ke orang lain. Kemudian Gonzales dalam Jahi (1993) mengatakan bahwa hubungan siapa dengan siapa dapat diilustrasikan dalam sebuah sosiogram yang berguna untuk menelusuri jaringan informasi ataupun difusi suatu inovasi.
Salah satu cara untuk memahami perilaku manusia adalah dengan mengamati atau memahami hubungan-hubungan sosialnya yang tercipta karena adanya proses komunikasi interpersonal (Seliawan 1983). Oleh karena itu untuk memahami hubungan sosial yang demikian dapat dipelajari melalui studi jaringan komunikasi. Ketika dua orang atau lebih ikut serta dalam pengiriman pesan, mereka terlibat dalam suatu jaringan komunikasi (Man Lin 1975, diacu dalam Setyanto 1993). Karena struktur hirarkinya yang ketat, jarak phisik yang jauh dari orang-orangnya, perbedaan yang besar dalam kompetensinya, dan berbagai tugas khusus yang harus diselesaikan, maka organisasi maka organisasi harus menciptakan jaringan komnunikasi yang beragam (Baird, 1977; Kreps, 1990 dalam Devito 1997). Dengan perspektif yang manapun, jaringan komunikasi merupakan jenis umum pola komunikasi kelompok dan dapat dijumpai umumnya komunikasi kelompok dan organisasi. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian jaringan komunikasi dan aplikasinya dalam salah satu sektor kehidupan yaitu sektor pertanian.

JARINGAN KOMUNIKASI
Jaringan komunikasi adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orng ke orang lain. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, kelompok kecil sesuai dengan sumberdaya yang dimilikinya akan mengembangkan pola komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jarngan komunikasi. Jaringan komunikasi ini kemudian merupakan sistim komunikasi umum yang akan digunakan oleh kelompok dalam mengirimkan pesan dari satu orang keorang lainnya. Kedua, jaringan komunikasi ini bias dipandang sebagai struktur yang diformalkan yang diciptakan oleh organisasi sebagai sarana komunikasi organisasi. Beberapa pengertian jaringan komunikasi menurut beberapa ahli dapat disebutkan sebagai berikut:
1) Pengertian jaringan komunikasi menurut Rogers (1983) adalah suatu jaringan yang terdiri atas: individu-individu yang saling berhubungan, yang dilmbungkan oleh arus komunikasi yang terpola.
2) Hanneman dan Mc Ever dalam Djamali (1999) menyatakan bahwa jaringan komunikasi adalah pertukaran informasi yang terjadi secara teratur antara dua orang atau lebih.
3) Knoke dan Kuklinski (1982) melihat jaringan komunikasi sebagai suatu jenis hubungan yang secara khusus merangkai individu-individu, obyek-obyek dan peristiwa-peristiwa.
4) Berger dan Chaffee mengutip pendapat Farace (1977) yang melihat jaringan komunikasi sebagai suatu pola yang teratur dari kontak antara person yang dapat diidentifikasi sebagai pertukaran informasi yang dialami seseorang di dalam sistem sosialnya (Berger dan Chaffee. 1987:239).
5) Feldman dan Arnold (1993) membedakan jaringan komunikasi menjadi dua jenis, yaitu jaringan komunikasi formal (menyerupai struktur organisasi) dan jaringan komunikasi informal yang disebut juga sebagai grapevine atau benalu komunikasi.
6) Sajogyo (1996) mengistilahkan jaringan komunikasi informal ini sebagai jaringan komunikasi tradisional. Jaringan komunikasi tradisional merupakan saluran komunikasi yang paling penting untuk mobilisasi desa .
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan pengertian jaringan komunikasi secara lebih khusus sesuai dengan penelitian ini, yaitu suatu rangkaian hubungan di antara individu-individu dalam suatu sistem sosial sebagai akibat dari terjadinya pertukaran informasi di antara individu-individu tersebut, sehingga membentuk pola-pola atau model jaringan komunikasi tertentu. Rogers dan Kincaid (1981) membedakan pola atau model Jaringan komunikasi ke dalam Jaringan Personal Jari-jari (Radial Personal Network) dan Jaringan Personal Saling mengunci (Interlocking Personal Network). Model Jaringan demikian bersifat memusat dan menyebar. Jaringan personal yang memusat (interlocking) mempunyai derajat integrasi yang tinggi. Sementara suatu Jaringan personal yang menyebar (radial) mempunyai derajat integrasi yang rendah, namun mempunyai sifat keterbukaan terhadap lingkungannya. Selanjutnya Rogers dan Kincaid menegaskan, individu yang terlibat dalam Jaringan komunikasi interlocking terdiri dari individu-individu yang homopili, namun kurang terbuka terhadap lingkungannya.

PEMBAHASAN
STRUKTUR JARINGAN KOMUNIKASI
Suatu Jaringan, dalam sosiologi lazim dikonsepsikan sebagai suatu tipe hubungan antar aktor dengan ditandai oleh bentuk interaksi timbal balik yang simetris. Setiap hubungan antara aktor yang terjalin dalam masyarakat adalah suatu bentuk Jaringan if (the building block of network), karena itu dasar hubungan sosial yang berbeda akan melahirkan Jaringan yang berbeda pula (Usman 1991).
Di samping itu, menurut Rogers dan Kincaid (1981) dalam menjalin hubungan sosial tersebut, setiap aktor membawa ciri-ciri kepribadiannya sendiri, sehingga konfigurasi masuknya atau keluarnya seorang aktor dalam jalinan hubungan sosial akan mempengaruhi struktur interaksi yang diciptakan.
Berbeda dengan Rogers dan Kincaid yang menekankan model jaringan komunikasi pada masyarakat yang lebih luas, DeVito lebih menekankan pada struktur jaringan komunikasi yang terjadi dalam kelompok atau organisasi. Menurut DeVito (1997), ada lima struktur jaringan komunikasi kelompok, yang juga akan relevan di dalam menganalisis model jaringan komunikasi di lingkaran klik. Kelima struktur tersebut adalah:
1) Struktur Lingkaran
2) Struktur Roda
3) Struktur Y
4) Struktur Rantai
5) Sruktur Semua Saluran.
Struktur lingkaran tidak memiliki pemimpin, semua anggota posisinya sama. Struktur roda mempunyai pemimpin yang jelas, yaitu posisinya di pusat. Struktur Y relatif kurang tersentralisasi dibanding Karakteristik Individu dan Perilaku Komunikasi dengan struktur roda, tetapi lebih tersentralisasi dibanding dengan poia lainnya. Struktur rantai sama dengan struktur lingkaran, kecuali orang yang paling ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja. Struktur semua saluran atau pola bintang hampir sama dengan struktur lingkaran, dalam arti semua anggota adalah sama dan semuanya memiliki kekuatan yang sama untuk mempengaruhi anggota lainnya. Kelima struktur jaringan komunikasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Setiap diagram menunjukan adanya lima individu, meskipun suatu jaringan komunikasi bisa melibatkan sejumlah orang selain lima,dan tanda panah menunjukan arah pesan itu mengalir.


Struktur Lingkaran. Strukutur lingkaran tidak memiliki pemimpin. Semua anggota posisinya sama. Mereka memiliki wewenang atau kekuatan yang sama untuk mempengaruhi kelompok. Setiap anggota bisa berkomunikasi dengan dua anggota lain di sisinya.
Struktur Roda. Struktur roda memilki pemimpin yang jelas. Yaitu yang posisinya dipusat. Orang ini merupakan satu-satunya yang dapat mengirim dan menerima pesan dari semua anggota. Oleh karena itu, jika seorang anggota ini berkomunikasi dengan anggota lain, maka pesannya harus disampaikan melalui pemimpinnya.
Struktur Y. Struktur Y relative kurang tersentralisasi di banding dengan strukrur roda , tetapi lebih tersentralisasi dibandingkan dengan pola lainnya. Pada struktur Y juga terdapat pemimpin yang jelas . tetapi semua anggota lain berperan sebagai pemimpin kedua. Anggota ini dapat menngirimkan dan menerima pesan dari dua orang lainnya. Ketiga anggota lainnya komunikasinya terbatas hanya dengan satu orang lainnya.
Struktur Rantai. Struktur rantai sama dengan struktur lingkaran kecuali bahwa para anggota yang paling ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja. Keadaan terpusat juga terdapat disini. Orang yang berada di posisi tengah lebih berperan sebagai pemimpin daripada mereka yang berada di posisi lain.

ANALISIS JARINGAN KOMUNIKASI
Analisis jaringan komunikasi merupakan salah satu pendekatan dari penelitian yang mempelajari perilaku manusia berdasarkan pendekatan model komunikasi konvergens. Masalah-masalah pckok yang ditanyakan oleh peneliti komunikasi berubah dari "apa efek komumkasi" kepada apa yang dilakukan manusia dalam berkomunikasi (Setiawan 1983).
Rogers dan Kincaid (1981) menegaskan bahwa analisis jaringan komunikasi merupakan metode penelitian untuk mengidentifikasi struktur komunikasi dalam suatu sistem, di mana data hubungan mengenai arus komunikasi dianalisis dengan menggunakan beberapa tipe hubungan interpersonal sebagai unit analisis. Lebih lanjut salah satu tujuan penelitian komunikasi dengan menggunakan analisis jaringan komunikasi adalah untuk memahami gambaran umum mengenai interaksi manusia dalam suatu sistem.
Struktur komunikasi adalah susunan dari unsur-unsur komunikasi yang berbeda yang dapat dikenali melalui pola arus komunikasi dalam suatu sistem (Rogers dan Kincaid 1981). hal yang dapat dilakukan dalam analisis jaringan komunikasi, yaitu: (1) mengidentifikasi klik dalam sutau sistem; (2) mengidentifikasi peranan khusus seseorang dalam jaringan misalnya sebagai liaisons, bridges, dan isolated; dan (3) mengukur berbagai indikator (indeks) struktur komunikasi seperti keterhubungan Klik, keterbukaan klik, keintegrasian klik, dan lain sebagainya.
Sementara itu yang dimaksud dengan klik adalah bagian dari sistem (sub sistem) dimana anggota-anggotanya relatif lebih sering berinteraksi satu sama lain dibandingkan dengan anggota-anggota lainnya dalam sistem komunikasi (Rogers dan Kincaid 1981).
Sebagai dasar untuk mengetahui apakah individu-individu itu dapat dimasukkan ke dalam suatu klik atau tidak, ada tiga kriteria yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi klik, yaitu: (1) setiap klik minimal harus terdiri dari 3 anggota; (2) setiap anggota klik minimal harus mempunyai derajat keterhubungan 50% dari hubungan-hubungannya di dalam klik; dan (3) seluruh anggota klik baik secara langsung maupun tidak langsung harus saling berhubungan melalui suatu ranlai hubungan dyadic yang berlangsung secara kontinyu dan menyeluruh di dalam klik (Rogers dan Kincaid 1981).
Dengan pengidentifikasian klik dapat diketahui bagaimana struktur komunikasi yang terbentuk, akan tetapi dapat juga dipakai untuk mengukur derajat struktur komunikasinya. Di samping itu, melalui klik juga dapat dilacak tingkat keinovatifan anggota-anggotanya yaitu dengan melihat tingkat (derajat) keterbukaan dari klik (Clique Openness). Keterbukaan suatu klik dapat dilihat dari pola hubungan antar anggota-anggotanya dengan individu-individu di luar batas klik tersebut. Semakin banyak anggota suatu klik yang berhubungan dengan anggota lain di luar klik tersebut, maka semakin tinggi derajat keterbukaan klik tersebut.
Dengan semakin tinggi derajat keterbukaan klik berarti akan semakin banyak informasi-informasi baru yang diterima oleh anggota-anggota klik. Oleh karenanya suatu klik yang lebih terbuka, secara teoritis akan membawa anggota-anggota klik lebih inovatif.
Adapun yang dimaksud dengan liaison adalah seorang indvidu yang menghubungkan dua klik atau lebih dalam suatu sistem, namun ia tidak menjadi anggota klik manapun. Sedangkan Bridge adalah seorang individu yang menghubungkan dua klik atau lebih dalam suatu sistem, dan ia menjadi anggota dari klik-klik tersebut. Sementara itu yang dimaksud dengan isolated adalah individu yang tidak menjadi anggota dalam suatu sistem atau individu yang tidak terlibat dalam dalam jaringan komunikasi (Rogers dan Kincaid 1981)
Sementara itu, (Knoke dan Kuklinski dalam Setyanto 1993) menegaskan bahwa analisis jaringan komunikasi mempunyai dua konsep dasar tentang tingkah laku sosial, yakni:
1. Dalam analisis jaringan harus dilihat bahwa keterlibatan individu yang ada di dalamnya tidak hanya seorang melainkan melibatkan banyak pelaku yang berpartisipasi dalam sistem sosial itu. Sifat hubungan yang terdapat pada individu juga akan terdapat pada individu lain yang terlibat dan mungkin dapat mempengaruhi terhadap persepsi, kepercayaan dan tindakan dari masing-masing individu. Di dalam analisis jaringan, langkah-langkah ini tidak hanya berhenti pada penjumlahan dari tingkah laku sosial saja.
2. Di dalam Jaringan perlu diperhatikan berbagai tingkatan struktur dalam sistem I. Sebab suatu struktur sosial tertentu berisi keteraturan pola hubungan dari suatu keadaan kongkrit.

KASUS
POLA JARINGAN KOMUNIKASI PADA KELOMPOK TANI DALAM ADOPSI INOVASI TEKNOLOGI PENGOLAHAN KELAPA TERPADU
( Kasus Di Desa Langensari Kecamatan Langensari Kota Banjar Jawa Barat Tahun 2005 )

A. LATAR BELAKANG
Program pembangunan pertanian yang dilaksanakan tanpa melibatkan petani dan masyarakat desa sering kurang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Salah satu tujuan dalam pembangunan pertanian adalah meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat desa, Upaya itu diantaranya diwujudkan dengan cara meningkatkan jumlah produksi pertanian melalui pengenalan teknologi baru.
Perkembangan penduduk suatu desa biasanya diikuti pula oleh perkembangan pembangunan fisik, perubahan lapangan kerja maupun pertaniannya. Perkembangan pengolahan kelapa di Desa Langensari berkembang sesuai dengan permintaan diversifikasi produk kelapa. Pada mulanya kelapa hanya dimanfaatkan untuk diambil daging buahnya, minyak kelapa dengan hasil sampingannya makanan khas Daerah Ciamis dan Banjar (galendo), sapu lidi dari tulang daun, dan ketupat dari daun kelapa. Diversifikasi produk kelapa berkembang antara lain dengan pemanfaatan sabut kelapa untuk membuat sapu, tambang, karpet, kesedan, dan jok mobil. Industri sabut kelapa di Kota Banjar hanya menghasilkan sapu dan tambang, sedangkan pengolahan menjadi karpet jok mobil dilakukan di Bogor. Pengolahan daging kelapa di Desa Langensari dimulai dengan pembuatan kopra pada tahun 1960 dengan didirikannya pabrik pengolahan kopra kapasitas 1.000 ton oleh Bapak Cedom (almarhum) yang kini dikelola oleh Bapak Asep (menantunya), dan dikembangkan dengan memanfaatkan tempurung kelapa untuk wadah penampungan getah pinus dan pembuatan arang tempurung kelapa. Pemanfaatan air kelapa selain untuk kebutuhan memasak, semakin berkembang dengan adanya pabrik pembuatan nata de coco (PT. Wong Coco) di Batu Lawang Kota Banjar, tetapi mulai tahun 2005 perusahaan ini pindah ke Jawa Tengah hingga air kelapa yang dihasilkan pabrik kopra tidak dimanfaatkan lagi. Hal ini merupakan peluang untuk penelitian selanjutnya terutama pengolahan air kelapa menjadi semacam minuman isotonik.
Dengan memperhatikan fenomena tersebut salah satu cara yang dilakukan pemerintah setempat, adalah melakukan sosialisasi kepada kelompok-kelompok tani melalui penyuluh tentang pentingnya pengolahan kelapa secara terpadu agar dapat memberikan nilai lebih bagi petani dan dapat meningkatkan penghasilan hingga akhirnya diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup menuju kehidupan yang lebih layak. Beberapa instansi seperti Perguruan tinggi, Depertemen Pertanian, BPTP dan lembaga-lembaga lain seperti LSM telah banyak membantu dalam penyebaran inovasi guna peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pengolahan kelapa secara terpadu.
Peranan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, Perkebunan dan Kehutanan Kota Banjar, terutama Dinas Perkebunan cukup besar dirasakan oleh petani kelapa. Peranan dinas menyangkut masalah kebijakan/program yang alan dilaksanakan di Desa Langensari, pembinaan secara teknis kepada petani kelapa di Desa Langensari, dan peranan dalam hal pemberian bantuan dana (BPLM) untuk usahatani kelapa yang ditujukan sebagai penguat kelompok.
Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana proses penyebaran teknologi pengolahan kelapa terpadu beserta cara pemecahan masalah yang dihadapi oleh petani kelapa, maka sangat penting untuk dilakukan analisis jaringan komunikasi yang terjadi dan perilaku para anggota kelompok dalam mencari informasi dan mengadopsi inovasi.

B. MASALAH
Secara spesifik ada tiga masalah yang akan diungkap yaitu :
1. Bagaimana profil jaringan komunikasi yang berperan secara efektif ditingkat anggota dan kelompok
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi tersebut

C. TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah :
1. Mempelajari profil jaringan komunikasi yang berperan secara efektif di tingkat anggota dan kelompok
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi tersebut.


II. TINJAUAN PUSTAKA

PERKEMBANGAN IPTEK DAN MODEL KOMUNIKASI
Sebagai dampak positif berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan masyarakat, maka tantangan yang akan kita hadapi adalah bagaimana kita mengkomunikasikan kemajuan ilmu pengetahuan tersebut ke wawasan masyarakat agar kemajuan masyarakat yang kita peroleh selama ini dapat dipertahankan serta dapat dttingkatkan melalui penggunaan ilmu dan teknologi yang semakin berkembang tersebut. Kita menyadari bahwa peranan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut akan tidak bermakna sama sekali manakala iimu pengetahuan dan teknologi tersebut tidak dikomunikasikan atau tidak disebariuaskan ke tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, peranan komunikasi sangat dibutuhkan terutama dalam menyebariuaskan teknologi pertanian ke dalam masyarakat pedesaan. Sejalan dengan perkembangan jaman, Levis (1996) berpendapat bahwa daiam pelaksanaan komunikasi berbagai teknologi atau paket pembangunan ke tengah masyarakat desa, masih terdapat hambatan yang dihadapi dewasa ini, yaitu:
(1) Selalu terjadi kesenjangan antara petugas lapangan dengan kondisi sosial ekonomi serta budaya masyarakat setempat,
(2) Seringkali petugas belum mampu meyakinkan para peternak tentang tugas dan peranan mereka dalam memberikan informasi yang terkait dengan usahatani peternak,
(3) Para petugas kurang memahami strategi berkomunikasi yang efektif dan efisien yang dapat memperbesar pencapaian keberhasilan komunikasi,
(4) Setiap masyarakat memiliki karakteristik tersendiri daiam melaksanakan sistem komunikasi,
(5) Variasi bahasa daerah juga merupakan salah satu hambatan tidak efektifnya pelaksanaan komunikasi di daerah pedesaan
Hadirnya teknologi pertanian ataupun teknologi jenis lain di pedesaan merupakan "barang baru" (inovasi). Karena itu perlu dicari metode pemasyarakatan (komunikasi) dan pemasaran yang tepat dengan dilandasi kesadaran bahwa hal tersebut bukan pekerjaan mudah. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teori-teori dan model-mode! komunikasi telah banyak mengalami perubahan dari teori-teori dan model-model lama yang dianggap usang, kemudian muncul teori-teori dan model-model komunikasi yang lebih baru dan relevan dalam menjawab Dermasalahan-permasalahan dan fenomena-fenomena yang ada. Beberapa pandangan tentang komunikasi sebagai suatu interaksi di antara partisipan menurut Jahi (1988), dikatakan sebagai suatu kejadian yang masih baru. Dalam dasawarsa 1940, komunikasi umumnya dianggap sebagai suatu fungsi linier. Seorang mengkomunikasikan pesan-pesannya melalui sebuah saiuran kepaa'a seorang penerima, yang kemudian memberikan umpan balik kepada pengirim tersebut. Shannon dan Weaver (1949), mengembangkan model linier ini atas dasar suatu mekanis yang didesain untuk sistem telepon. Model linier ini mengidentifikasikan elemen-elemen utama proses komunikasi . sumber, pesan, saiuran, penerima dan efek. Oleh karena penelitian pada waktu itu sangat memperhatikan persuasi dan propaganda, maka model tersebut tampaknya bermakna, dengan aliran pengaruhnya yang satu arah.
Dari beberapa hasil penelitian lentang model komunikasi kebijaksanaan program pembangunan pertanian selama ini yang dikembangkan oleh pemerintah adalah mengacu pada model komunikasi linier searah dan berbentuk vertikal dari atas ke bawah (Top down), bersifat perintah dan jika dievaluasi model linier ini mempunyai banyak kelemahan, kadang-kadang tidak memperhatikan aspek kebutuhan masyarakat setempat.
Menurut Jahi (1988) bahwa setelah model komunikasi linier satu arah dianggap kurang sempurna, kini pandanyan orang muiai mengarah pada komunikasi interaktrf dua arah di antara partisipan, model komunikasi ini baru muncul pada abad dasawarsa 1960. Model komunikasi "interaktif " atau "konvergen" ini (Schramm 1973; Rogers dan Kincaid 1981) dianggap sebagai suatu transaksi di antara partisipan, yang setiap orang memberikan kontribusi pada transaksi itu, meskipun dalam derajat yang berbeda. Terlebih lagi, model ini berlaku baik untuk situasi komunikasi interpersonal maupun komunikasi massa.

JARINGAN KOMUNIKASI (COMMUNICATION NETWORKS)
Dalam Further Up the Organization Robert Townsend (1985), orang yang menghidupkan kembali Penyewaan Mobil Avis dan mengepalai berbagai perusahaan lainnya memiliki berbagai kiat mengenai cara mengatur manajemen. Salah satu usulannya adalah semua posisi yang dinamai dengan "asisten untuk" (assistant to) dihilangkan. Berbeda dengan asisten reguler, yang diberi wewenang untuk membuat keputusan, si asisten-untuk "pulang pergi antara kepala dan anak buahnya dengan pesan-pesan lisan atau tulisan mengenai persoalan-persoalan yang nyata atau sudah jelas—melakukan usaha yang tumpang tindih dan diulang-ulang serta membuat-buat pekerjaan".
Townsend berbicara mengenai jaringan komunikasi, pola inter aksl manusia. Sambil membaca, coba anda pikirkan apakah rekomendasi Townsend bermanfaat, namun tundalah penilaian anda sampai anda membaca bagian ten tang kepemimpinan. Dalam organisasi terbaik, orang-orang melihat diri mereka sendiri bekerja dalam sebuah lingkaran seakan-akan mengelilingi rneja. Salah satu posisi dicalonkan untuk kepala eksekutif, karena harus ada yang membuat semua keputusan taktis yang memungkinkan roda organisasi tetap berjalan. Dalam organisasi melingkar ini, kepemimpinan beralih dari satu kepada lainnya bergantung pada tugas khusus yang harus ditangani—tanpa menundanya.
Dalam Jaringan Rantai, tiga orang dapat berkomunikasi dengan yang di sebelahnya, tetapi yang dua orang hanya dapat berkomunikasi dengan seorang anggota lainnya. Jaringan Y mirip dengan Jaringan Rantai: tiga dari lima orang hanya dapat berkomunikasi dengan seorang anggota lainnya. Berbeda dengan ketiga sistem tersebut, yang dipusatkan dan cenderung mempunyai seorang pemimpin. Pola Lingkaran dan pola Semua-Saluran tidak dipusatkan dan kadang-kadang tanpa pemimpin. Dalam Lingkaran, setiap orang dapat berkomunikasi dengan dua orang yang bersebelahan dengannya. Dalam Jaringan Semua-Saluran, semua saluran komunikasi terbuka; setiap orang dapat berkomunikasi dengan semua anggota lainnya. Dalam penelitian komunikasi kelompok-kecil, kita ingin mengetahui bagaimana pengaruh jenis Jaringan yang digunakan pada kinerja kelompok dalam memecahkan masalah, dan bagaimana pengaruh pola tersebut atas hubungan antarpersona di dalam kelompok. Banyak penelitian Jaringan didasarkan pada percobaan Leavitt (1951 dalam Tubb dan Moss, 1996). Lima subjek diberi informasi berbeda yang penting untuk penyelesaian suatu persoalan dalam identifikasi simbol. Dengan menggunakan berbagai Jaringan (Y, Roda, Rantai, dan Lingkaran), Leavitt memanipulasi kebebasan penyampaian informasi dari satu subjek kepada subjek lainnya, dan selanjutnya membandingkan hasilnya. Rantai, yang paling terpusat dari keempat Jaringan ini, menghasilkan pengaturan terbaik dan kinerja tercepat; kelompok Lingkaran, yang paling tidak terpusat, merupakan Jaringan yang paling tidak teratur dan tidak stabil, dan terbukti paling lambat memecahkan masalah. Kekurangan Jaringan Lingkaran yang paling besar, seperti diamati peneliti lainnya, cenderung menghasilkan sejumlah besar kesalahan ketika para anggota mencoba mengkomunikasikan informasi di sekitar kelompok tersebut (Bavelas, 1950).
Sifat persoalan yang harus dipecahkan juga mempengaruhi kinerja. Kelompok dengan jaringan terpusat lebih baik dalam mengenali warna, lambang, dan angka-angka, serta memecahkan masalah sederhana lainnya. Jaringan tidak terpusat lebih baik dari yang terpusat bila menghadapi masalah yang lebih rumit—aritmatika, penyusunan kata, membentuk kalimat, dan masalah-masalah diskusi (Shaw, 1964 dalam Tubbs dan Moss, 1996).
Karena kebanyakan komunikasi yang kita perhatikan tidak berkaitan dengan identifikasi lambang dan semacamnya, melainkan dengan masalah-masalah yang lebih rumit, jaringan tidak terpusat biasanya lebih disukai. Misalnya, jaringan Roda, meskipun efisien dalam penggunaan waktunya, cenderung menurunkan kepaduan kelompok, mengurangi daya cipta, dan menjadi terlalu bergantung kepada pemimpinnya (Guetzkow dan Simon, 1955 dalam Tubb dan Moss, 1996). Keuntungan lain jaringan tidak terpusat adalah bahwa jaringan ini cenderung memberi kepuasan perseorangan terbaik kepada anggotanya. Jaringan Semua-Saluran tampaknya disukai karena-berbagai alasan. Meskipun awalnya cenderung lebih tidak efisien dan banyak memakan waktu, jaringan ini memaksimalkan kesempatan untuk umpan balik korektif, yang akhirnya menghasilkan kecermatan lebih besar. Selanjutnya, kebebasan berbicara dengan setiap anggota kelompok menciptakan suasana moral yang lebih baik. Temuan ini penting diingat bila diskusi kelompok yang anda ikuti tidak cermat dan semangat juangnya rendah. Salah satu cara untuk memahami perilaku manusia adalah dengan mengamati atau memahami hubungan-hubungan sosialnya yang tercipta karena adanya proses komunikasi interpersonal (Seliawan 1983). Olch karena itu untuk memahami hubungan sosial yang demikian dapat dipelajari melalui studi jaringan komunikasi. Ketika dua orang atau lebih ikut serta dalam pengiriman pesan, mereka terlibat dalam suatu jaringan komunikasi (Man Lin 1975, diacu dalam Setyanto,1993). Sedangkan pengertian jaringan komunikasi menurul ilogers (1983) adalah suatu jaringan yang terdiri atas: individu-individu yang soling berhubungan, yang dilmbungkan oleh arus komunikasi yang terpola. Begitu pula Hanneman dan Mc Ever (diacu dalam Djamali 1999) menyatakan bahwa jaringan komunikasi adalah pertukaran informasi yang lerjadi secara teratur antara dua orang atau lebih. Knoke dan Kuklinski (1982) melihat jarinean komunikasi sebagai suatu jenis hubungan yang secara khusus merangkai individu-individu, obyek-obyek dan peristiwa-peristiwa (diacu dalam Setyanto, 1993).
Sementara itu Berger dan Chaffee mengutip pendapat Farace (1977) yang melihat jaringan komunikasi sebagai suatu pola yang teratur dari kontak antara person yang dapat diidentifikasi sebagai pertukaran informasi yang dialami seseorang di dalam sistem sosialnya (Berger dan Chaffee, 1987). Selanjutnya Feldman dan Arnold (1993) membedakan jaringan komunikasi menjadi dua jenis, yaitu jaringan komunikasi formal (menyerupai struktur organisasi) dan jaringan komunikasi informal yang disebut juga sebagai grapevine atau benalu komunikasi (diacu dalam Djamali, 1999). Sajogyo mengistilahkan jaringan komunikasi informal ini sebagai jaringan komunikasi tradisional. Jaringan komunikasi tradisional merupakan saluraii komunikasi yang paling penting untuk mobilisasi desa (Sajogyo dan Sajogyo, 1996).
Banyak penelitian jaringan dibuat polanya setelah percobaan Leavitt, tetapi hasilnya tidak mudah disimpulkan. Kadang-kadang dinyatakan, misalnya, bahwa beberapa jaringan lebih efektif karena struktur jaringan itu, tetapi Guetzkow dan Simon (1955 dalam Tubb dan Moss, 1996) percaya bahwa ada faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan. Jaringan tertentu dapat menghambat suatu kelompok bukan karena kemampuan jaringan itu dalam memecah-kan masalah, melainkan karena kemampuan untuk mengatur jaringan itu sendiri agar dapat memecahkan masalah. Ini suatu hipotesis yang menarik, terutama membandingkannya dengan temuan Leavitt semula bahwa kelompok-kelompok Y, Roda, dan Rantai mampu mengatur diri mereka sendiri sehingga akhirnya menetapkan sebuah prosedur yang digunakan terus-menerus, sedangkan anggota jaringan Lingkaran tidak dapat melakukan hal yang serupa. Guetzkow dan Simon percaya bahwa bila kelompok mampu menetapkan suatu prosedur untuk bekerja bersama, kelompok dapat berjalan efisien terlepas dari jenis jaringannya.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas dapal disimpulkan pengertian jaringan komunikasi secara lebih khusus sesuai dcngan penelitian ini, yaitu suatu rangkaian hubungan di antara individu-individu dalam suatu sistem sosial sebagai akibat dari terjadinya pertukaran informasi di antara individu-individu tersebut, sehingga membentuk pola-pola atau model jaringan komunikasi tertentu.
Analisis jaringan komunikasi merupakan salah satu pendekatan dari penelitian yang mempelajari perilaku manusia berdasarkan pendekatan model komunikasi konvergens. Masalah-masalah pckok yang ditanyakan oleh peneliti komunikasi berubah dari "apa elek komumkasi" kepada apa yang dilakukan manusia dalam berkomunikasi (Setiawan 1983).
Rogers dan Kincaid (1981) menegaskan bahwa analisis jaringan komunikasi merupakan metode penelitian untuk mengidcntifikasi struktur komunikasi dalam suatu sistem, di mana data hubungan mengenai arus komunikasi dianalisis dengan menggunakan beberapa tipe hubungan interpersonal sebagai unit analisis. Lebih lanjut salah satu tujuan penelitian komunikasi dengan menggunakan analisis jaringan komunikasi adalah untuk memahami gambaran umum mengenai interaksi manusia dalam suatu sistem. Struktur komunikasi adalah susunan dari unsur-unsur komunikasi yang berbeda yang dapat dikenali melalui pola arus komunikasi dalam suatu sistem (Rogers dan Kincaid, 1981).
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam analisis jaringan komunikasi, yaitu: (1) mengidentifikasi klik dalam sutau sistem; (2) mengidentifikasi peranan khusus seseorang dalam jaringan misalnya sebagai liaisons, bridges, dan isolated; dan (3) mengukur berbagai indikator (indeks) struktur komunikasi seperti keterhubungan Klik, keterbukaan klik, keintegrasian klik, dan lain sebagainya.
Sementara itu yang dimaksud dengan klik adalah bagian dari sistem (sub sistem) dimana anggota-anggotanya relatif lebih sering berinteraksi satu sama lain dibandingkan dengan anggota-anggota lainnya dalam sistem komunikasi (Rogers dan Kincaid, 1981).
Sebagai dasar untuk mengetahui apakah individu-individu itu dapat dimasukkan ke dalam suatu klik atau tidak, ada tiga kriteria yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi klik, yaitu: (1) setiap klik minimal hams terdiri dari 3 anggota; (2) setiap anggota klik minimal harus mempunyai derajat keterhubungan 50% dari hubungan-hubungannya di dalam klik; dan (3) seluruh anggota klik baik secara langsung maupun tidak langsung harus saling berhubungan melalui suatu ranlai hubungan dyadic yang berlangsung secara kontinyu dan menyeluruh di dalam klik (Rogers dan Kincaid, 1981).
Dengan pengidentifikasian klik dapat diketahui bagaimana struktur komunikasi yang terbentuk, akan tetapi dapat juga dipakai untuk mengukur derajat struktur komunikasinya. Di samping itu, melalui klik juga dapat dilacak tingkat keinovatifan anggota-anggotanya yaitu dengan melihat tingkat (derajat) keterbukaan dari klik (Clique Openness). Keterbukaan suatu klik dapat dilihat dari pola hubungan antar anggota-anggotanya dengan individu-individu di luar batas klik tersebut. Semakin banyak anggota suatu klik yang berhubungan dengan anggota lain di luar klik tersebut, maka semakin tinggi derajat keterbukaan klik tersebut.
Dengan semakin tinggi derajat keterbukaan klik berarti akan semakin banyak informasi-informasi baru yang diterima oleh anggota-anggota klik. Oleh karenanya suatu klik yang lebih terbuka, secara teoritis akan membawa anggota-anggota klik lebih inovatif.
Adapun yang dimaksud dengan liaison adalah seorang indvidu yang menghubungkan dua klik atau lebih dalam suatu sistem, namun ia tidak menjadi anggota klik manapun. Sedangkan Bridge adalah seorang individu yang menghubungkan dua klik atau lebih dalam suatu sistem, dan ia menjadi anggota dari klik-klik tersebut. Sementara itu yang dimaksud dengan isolated adalah individu yang tidak menjadi anggota dalam suatu sistem atau individu yang tidak terlibat dalam dalam jaringan komunikasi (Rogers dan Kincaid, 1981)
Sementara itu, Knoke dan Kuklinski (diacu dalam Setyanto, 1993) menegaskan bahwa analisis jaringan komunikasi mempunyai dua konsep dasar tentang tingkah laku sosial, yakni:
1. Dalam analisis jaringan harus dilihat bahwa keterlibatan individu yang ada di dalamnya tidak hanya seorang melainkan melibatkan banyak pelaku yang berpartisipasi dalam sistem sosial itu. Sifat hubungan yang terdapat pada individu juga akan terdapat pada individu lain yang terlibat dan mungkin dapat mempengaruhi terhadap persepsi, kepercayaan dan tindakan dari masing-masing individu. Di dalam analisis jaringan, langkah-langkah ini tidak hanya berhenti pada penjumlahan dari tingkah laku sosial saja.
2. Di dalam Jaringan perlu diperhatikan berbagai tingkatan struktur dalam sistem I. Sebab suatu struktur sosial tertentu berisi keteraturan pola hubungan dari suatu keadaan konkrit.

MODEL DAN STRUKTUR JARINGAN KOMUNIKASI
Suatu Jaringan, dalam sosiologi lazim dikonsepsikan sebagai suatu tipe hubungan antar aktor dengan ditandai oleh bentuk interaksi timbal balik yang simetris. Setiap hubungan antaraktor yang terjalin dalam masyarakat adalah suatu bentuk Jaringan if (the building block of network), karena itu dasar hubungan sosial yang berbeda akan melahirkan Jaringan yang berbeda pula (Usman 1991:31). Di samping itu, menurut Rogers dan Kincaid (1981) dalam menjalin hubungan sosial tersebut, setiap aktor membawa ciri-ciri kepribadiannya sendiri, sehinga konfigurasi masuknya atau keluarnya seorang aktor dalam jalinan hubungan sosial akan mempengaruhi struktur interaksi yang diciptakan.
Selanjutnya, Rogers dan Kincaid (1981:135) membedakan pola atau model Jaringan komunikasi ke dalam Jaringan Personal Jari-jari (Radial Personal Network) dan Jaringan Personal Saling mengunci (Interlocking Personal Network). Model Jaringan demikian bersifat memusat dan menyebar. Jaringan personal yang memusat (interlocking) mempunyai derajat integrasi yang tinggi. Sementara suatu Jaringan personal yang menyebar (radial) mempunyai derajat integrasi yang rendah, namun mempunyai sifat keterbukaan terhadap lingkungannya. Selanjutnya Rogers dan Kincaid menegaskan, individu yang terlibat dalam Jaringan komunikasi interlocking terdiri dari individu-individu yang homopili, hamun kurang terbuka terhadap lingkungannya.
Senada dengan Rogers dan Kincaid, Epstein (diacu dalam Setyanto, 1993), menyebutkan bahwa tipologi jaringan sosial ini ada yang bersifat Close-klit atau jaringan sosial yang bersifat rapat dan ada jaringan sosial yang bersifat Loose-klit atau jaringan sosial yang bersifat longgar atau terbuka.
Berbeda dengan Rogers dan Kincaid yang menekankan model jaringan komunikasi pada masyarakat yang lebih luas, DeVito lebih menekankan pada struktur jaringan komunikasi yang terjadi dalam kelompok atau organisasi. Menurut DeVito (1997), ada lima struktur jaringan komunikasi kelompok, yang juga akan relevan di dalam menganalisis model jaringan komunikasi di lingkat klik. Kelima struktur tersebut adalah: struktur lingkaran, strukiur roda, struktur Y, struktur rantai, dan struktur semua saluran.
Struktur lingkaran tidak memiliki pemimpin, scmua anggota posisinya sama. Struktur roda mempunyai pemimpin yang jelas, yaitu posisinya di pusat. Struktur Y relatif kurang tersentralisasi dibanding
Karakteristik Individu dan Perilaku Komunikasi dengan struktur roda, tetapi lebih tersentralisasi dibanding dengan poia lainnya. Struktur rantai sama dengan struktur lingkaran, kecuali orang yang paling ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja. Struktur semua saluran atau pola bintang hampir sama dengan struktur lingkaran, dalam arti semua anggota adalah sama dan semuanya memiliki kekuatan yang sama untuk mempengaruhi anggota lainnya.
Karakteristik individu akan sangat menentukan atau mempengaruhi perilaku komunikasinya. Karakteristik individu ialah ciri-ciri atau sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang individu yang ditampilkan melalui pola pikir, pola sikap dan pola tindak terhadap lingkungannya (Nelly 1988:12).
Menurut Lionberger, karakteristik individu merupakan aspek personal seseorang yang meliputi: umur, tingkat pendidikan dan ciri psikologisnya. Sedangkan McLeod dan O'Keefe Jr. (1972) mengemukakan bahwa variabel demografi seperti jenis kelamin, umur dan status sosial merupakan indikator yang digunakan untuk menerangkan perilaku komunikasi (Lionberger I960; McLeod dan O'Keefe 1972, diacu dalam Saleh, 1988).
Slamet (1978) memerinci bahwa ada perbedaan karakteristik individu yang turut mempengaruhi cepat lambatnya proses adopsi, yang meliputi: umur, pendidikan, status sosial ekonomi, pola hubungan (lokalit vs kusmopolit), kebeianian mengambil resiko, sikap terhadap perubahan, motivasi berkarya, aspirasi, fatalhme, dan diagnotisme.
Perilaku komunikasi di sini dimaksudkan adalah aktivitas individu masyarakat dalam mencari informasi dan memilih saluran komunikasi yang tersedia dalam kaitannya dengan diseminasi informasi pertanian. Apabila dihubungkan dengan karakteristik individu, Rogers (1983) mengatakan bahwa orang-orang yang dikenal inovatif dan kosmopolit lebih banyak menggunakan saluran komunikasi media massa, sedangkan mereka yang kurang inovatif banyak menggunakan saluran komunikasi interpersonal.
Di masyarakat pedesaan, pada dasarnya pengaruh media massa tidaklah begitu kuat. Apalagi di masyarakat tradisional seperti Kampung Naga yang memiliki media massa sangat terbatas. Seperti dikatakan De Fleur dan Rokeach (1975), di samping media massa masih ada pengaruh lain pada khalayak yang sifatnya interpersonal. Sutnber pengaruh ini menurut Tubbs dan Moss (1996) biasanya berasal dari orang-orang yang dikenal sebagai pemuka pendapat atau opinion leaders, yang tidak lain adalah para pemimpin atau pemuka masyarakat yang melalui hubungan personal sehari-harinya dapat mempengaruhi orang lain dalam pembuatan keputusan dan pembentukan opini.
Hasil penelitian Rogers di Ohio mengungkapkan, bahwa sumber informasi mengenai praktek-praktek baru pertanian didominasi oleh majalah pertanian. Ini karena desa-desa di Ohio tergolong desa yang maju. Tetapi meskipun demikian, ternyata sumber informasi terbcsar kedua adalah melalui hubungan personal dengan tetangga, mengungguli sumber informasi lain seperli pertemuan dengan penyuluh, radio dan televisi (Rogers, 1960:406).
Berlo (1960) berpendapat bahwa orang dari kelas sosial yang berbeda akan berkomunikasi secara berbeda pula. Menurut Rogers (1983) terdapat hubungan antara karakteristik personal anggota sistem sosial seperti keinovatifan dan kekosmopolitan dan karakteristik individu lainnya seperti norma sistem dan sifat-sifat inovasi dengan penggunaan saluran komunikasi. Beberapa penelitian yang ada juga memperlihatkan bahwa karakteristik individu mempengaruhi penggunaan saluran komunikasi yang dipilih sebagai sumber informasi. Wardhani (1994) dan Istina (1998) dalam hasil penelitiannya memperlihatkan bahwa profil petani, yakni umur, pendapatan, luas lahan yang dimiliki, jumlah tanggungan keluarga, partisipasi dalam kelompok dan jarak ke sumber informasi berhubungan dengan upaya memperoleh informasi melalui saluran komunikasi interpersonal maupun media massa.
Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa tingkat pendidikan seseorang akan sangat mempengaruhi tingkat pemahaman, perubahan sikap, dan perubahan perilaku mereka terhadap informasi-informasi yang diperoleh baik secara langsung maupun nielalui media massa ( Witjaksono 1990).

JARINGAN KOMUNIKASI DAN ADOPSI INOVASI
Mengenai keterkaitan antara adopsi inovasi dengan jaringan komunikasi, banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa ada hubungan positif antara keterlibatan seseorang dalam jaringan komunikasi dengan tingkat adopsi inovasi mereka. Rogers dan Kincaid (1981) menemukan bahwa ibu-ibu yang terikat dalam suatu jaringan komunikasi, terutama keanggotaannya dalam perkumpulan ibu-ibu, banyak raengadopsi cara-cara berkeluarga berencana. Sedangkan ibu-ibu lain yang tidak terikat dalam jaringan komunikasi itu. hanya sedikit yang mengadopsi.
Penelitian Carlson mengenai adopsi ide-ide baru dalam bidang pendidikan di berbagai sekolah, menemukan bahwa para kepala sekolah yang terlibat dalam jaringan
persahabatan lebih inovatif daripada yang tidak terlibat di dalam kelompok persahabatan tersebut. Begitu pula Coleman. Katz dan Manzel menemukan adanya perbedaan tingkat pengadopsian para dokter terhadap obat-obat baru di antara mereka yang terlibat dalam jaringan komunikasi. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa obat baru tersebut lebih cepat terdiseminasi di kalangan dokter-dokter yang terlibat dalam jaringan komunikasi (Nan Lin 1975, diacu dalam Setyanto, 1993).
Lionbergers ( 1960) dalam Pambudy (1999) menyatakan bahwa karateristik individu atau personal adalah faktor yang perlu di perhatikan meliputi : Umur, pendidikan dan karateristik psikologis. Menurut Levis, (1996) adopsi merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap suatu inovasi sejak mengenal, menaruh minat, menilai sampai menerapkan. Sedangkan Mardikanto (1993), menyatakan bahwa adopsi dapat diartikan sebagai penerapan atau penggunaan sesuatu ide atau alat teknologi baru yang disampaikan beoipa pesan komunikasi (lewat penyuluhan). Manrfestasi dari bentuk adopsi ini dapat diiihat atau diamati melalui tingkah laku, metode, maupun peralatan atau teknoiogi yang dipergunakan oleh para petemak atau penerima pesan.
Tingkat kecepatan penerimaan inovasi oleh anggota sistem sosial disebut kecepatan adopsi (Rogers dan Shoemaker, 1971; Hanafi, 1987). Kecepatan ini biasanya diukur dengan jumlah penerima yang mengadopsi suatu ide baru dalam suatu periode waktu tertentu. Menurut Levis (1996), berdasarkan tujuannya komunikasi daiam adopsi inovasi dibedakan atas tiga yaitu : Pertama. komunikasi yang bertujuan untuk memberikan keterangan atau, informasi. Komunikasi jenis ini sifatnya informatif. Kedua, komunikasi persuasif, yaitu komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi perasaan atau emosi. Komunikasi dengan cara ini, sifatnya membujuk. Ketiga, komunikasi "entertainment, yartu komunikasi yang sifatnya sekedar memberikan hiburan pengisi waktu-waktu yang senggang. Di dalam kegiatan penyuluhan pertanian dtutamakan komunikasi informatif dan komunikasi persuasif. Levis (1996) lebih memandang kecepatan adopsi inovasi dari segi saluran komunikasi, yaitu bahwa penyampaian inovasi lewat media massa reiatif lebih iambat diadopsi oleh komunikan dibandingkan penyampaian inovasi melalui saluran interpersonal (hubungan antarpribadi). Sebab dengan hubungan langsung atau interpersonal para komunikan akan cepat menerima penjelasan-penjelasan dari komunikator setelah komunikan menyampaikan tanggapan-tanggapannya.

PEMBAHASAN
KONDISI UMUM DESA LANGENSARI
Desa Langensari terletak di Kecamatan Langensari dan merupakan ibukota kecamatan Langensari. Berdasarkan data monografi Desa Langensari pada tahun 2004 diketahui luas Desa Langensari kurang lebih 497,241 ha. Jarak ke ibu kota Propinsi kurang lebih 126 km. Lokasi Desa Langensari berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap Propinsi Jawa Tengah sebagai salah satu penghasil kelapa, sehingga memudahkan pasokan kelapa di Desa Langensari dan pemasaran hasil olahan kelapa. Iklim termasuk tipe-B dengan curah hujan rata-rata 180mm/tahun dengaan hari hujan sebanyak 10-15 hari hujan dan jenis tanah Alluvial 98% dan Podsolik Merah Kuning 2%. Desa Langensari merupakan dataran rendah dengan topografi datar.
Ditinjau dari segi umur, pendidikan dan mata pencaharian diketahui bahwa rata-rata umur kepala rumah tangga di Desa Langensari berkisar 21-52 tahun.dengan tingkat pendidikan menyebar yaitu SD, SMA dan S1 bahkan ada yang tidak tamat SD sedangkan mata pencaharian didominasi oleh petani, kemudian pedagang dan pengusaha.
Berbagai kelembagaan yang berhubungan dengan bidang pertanian di Desa Langensari perkembangannya masih sangat perlu ditumbuhkembangkan sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Lembaga-lembaga yang berperan terhadap kehidupan masyarakat Desa Langensari meliputi lembaga formal dan non formal dalam bidang pertanian, administrasi desa dan pendidikan.
Menurut Dinas Pertanian Kota Banjar, bahwa produksi kelapa di Kota Banjar adalah 6 ton/ha. Produksi kelapa di Desa Langensari belum sampai pada target Dinas Pertanian tersebut, produksinya baru mencapai 0,67 ton/ha. Melihat dari kesenjangan produksi antara produksi hasil penelitian dan produksi yang dihasilkan petani, di Desa Langensari produksi kelapa masih memungkinkan untuk ditingkatkan dengan memperbaiki teknologi didalam usahataninya,

GAMBARAN ANALISIS USAHATANI KELAPA
Secara umum usahatani kelapa cukup menguntungkan karena petani pada umunya hanya memetik hasil kelapa tanpa melakukan pemupukan dan penyemprotan. Hal ini mengakibatkan tingkat produksi yang tergolong masih rendah (rata-rata 10 butir/pohon). Tenaga yang dikeluarkan petani untuk memetik tidak diperhitungkan, karena dilaksanakan oleh pedagang pengumpul. Pemilikan kelapa per petani rata-rata 10 pohon yang diambil buahnya 7 pohon, sedangkan 3 pohon lagi untuk diambil air kelapa. Sehingga pendapatan rata-rata petani setiap pemetikan adalah sebesar : Rp 400,00 x 70 = Rp 28.000,00/pemetikan/3 bulan.
POLA JARINGAN KOMUNIKASI DALAM ADOPSI TEKNOLOGI PENGOLAHAN KELAPA TERPADU
Dalam penyebaran informasi teknologi pengolahan kelapa terpadu lebih banyak digunakan melalui jaringan komunikasi informal tetapi sebelumnya dilakukan terlebih dahulu komunikasi formal dengan Dinas Pertanian dan instansi setempat yang terkait. Berdasarkan hasil survei sosial bulan Desember 2004 diketahui bahwa melalui komunikasi informal suatu inovasi dapat di adopsi lebih banyak dimasyarakat luas, karena petani dianggap lebih menyukai hal-hal yang bersifat informal daripada yang formal karena dianggap hal yang formal terlalu mengikat buat mereka. Hubungan-hubungan yang terjadi diantara individu sebagai anggota kelompok dan diantara klik dalam menghadapi inovasi, dan hubungan tersebut dapat diketahui sebab setiap anggota telah memberikan informasi siapa dan kepada siapa melakukan komunikasi.
POLA JARINGAN KOMUNIKASI KELOMPOK PADA KELOMPOK TANI SUKADANA
Anggota Kelompok Tani Sukadana berjumlah 19 orang, di dalam proses adopsi inovasi teknologi pengolahan kelapa terpadu lebih banyak menggunakan hubungan komunikasi informal baik didalam kelompok maupun diluar kelompoknya.
Berdasarkan pola jaringan komunikasi diatas diketahui bahwa individu-individu dalam kelompok, mereka bereaksi satu sama lain untuk mencari informasi, dan dalam pola komunikasinya ternyata ada dua orang yang menjadi penasehat atau pembimbing anggota dan mempengaruhi keputusan mereka, sebab telah anggap mempunyai kemampuan oleh anggotanya. Dari beberapa individu ternyata ada 1(satu) orang (Rsp 11) yang tergolong isolated yaitu anggota yang menyembunyikan diri dalam organisasi atau asingkan oleh teman-temannya. Orang ini selalu tidak respon dengan hal-hal yang baru.
Memperhatikan pola jaringan komunikasi tersebut menunjukan pola jaringan yang berstruktur bentuk lingkaran, menurut Rogers dan Kincaid bahwa apabila struktur lingkaran tidak memiliki pemimpin maka, maka semua anggota posisinya sama. Model komunikasinya juga terpusat sehinnga dan menyebar bahkan adan jaringan personal saling mengunci terdiri dari individu-individu yang homofili,. sehingga ini menunjukkan bahwa jaringan hubungan sosial akan mempemgaruhi struktur interaksi yang diciptakan.


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI INOVASI
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan bahwa faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi teknologi pengolahan kelapa terpadu adalah :
a. Teknologinya
Secara teknis teknologi teknologi pengolahan kelapa terpadu sangat mudah baik segi penyediaan bahan bakunya yang sangat melimpah karena secara agroekologis Desa Langensari memiliki iklim yang cukup panas sehingga pohon kelapa dapat dengan mudah beradaptasi, cara pembuatannya maupun secara teknisnya mudah dilaksanakan oleh masyarakat. Secara fisik masyarakat telah lama mengusahakan tanaman kelapa. Teknologi yang digunakan oleh petani masih eksisting baru sampai taraf yang mereka tahu secara turun temurun.Saluran komunikasi yang digunakan dalam kelompok adalah komunikasi interpersonal, sehingga setiap individu merasa puas karena adanya kontak langsung, mereka leluasa untuk menanyakan apa permasalan meraka. Selain itu tingkat kedinamisan dalam kelompok juga sangat menentukan terutama dalam pengambilan keputusan suatu inovasi baru.
b. Karateristk Sasaran, Petani di desa Langensari menpunyai karateristik umur relatif produktif, mempunyai pendidikan, pengalaman yang cukup serta selalu tanggap dengan hal-hal yang baru, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan mereka. Dari segi ekonomi mereka cukup berpenghasilan untuk menunjang usahataninya.
c. Lingkungan, secara georafis, wilayah tersebut mudah di jangkau dengan kendaraan, media massa dan dekat dengan lokasi pariwisata Pantai Pangandaran. Sehingga selain mereka mendapat informasi dari penyuluh mereka juga biasa mencari imformasi di luar kelompoknya.
e. Penyuluh atau sumber informasi, berdasarkan survei diketahui bahwa penyuluh lapangan sangat membantu anggota dalam hal pemecahan masalah dalam kelompoknya, hal ini juga diungkapkan oleh Rogers dan Totok mardikanto, bahwa penyuluh dapat bersifat penghubung, advisor, komunikator dan agen pembaharu dalam kelompok suatu sistem sosial.




KESIMPULAN

1. Struktur pola jaringan komunikasi yang terjadi dikelompok relatif berbentuk lingkaran yang saling behubungan dan bersifat saling mengunci (interlocking personal Network). Dan terdapat 2 orang sebagai opinion leader yang menjadi panutan anggota kelompok yang mempengaruhi orang lain untuk mengambil keputusan dalam mengadopsi suatu inovasi.
2. Tingkat adopsi dipengaruhi oleh, sifat teknologi, saluran komunikasi, kedinamisan kelompok dan faktor personal anggota seperti umur, pendidikan, pengalaman dan status.

SARAN
Dalam upaya meningkatkan keefektivan jaringan komunikasi sangat diperlukan partisipasi anggota kelompok, dalam menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi anggota maka diperlukan : (a) adanya kesempatan untuk ikutserta dalam semua kegiatan atau seluruh anggota terlibat dan melibatkan diri agar informasi mengenai suatu inovasi dapat tersosialisasi dengan baik, (b) menambah pengetahuan dari sumber lain selain kelompok untuk memperkaya wacana dan menumbuhkan kemampuan serta keterampilan dalam memanfaatkan kesempatan (c). diperlukan suatu bimbingan secara kontinyu dan bertahap dari seorang opinion leader dalam kelompok untuk kedinamisan kelompoknya. Demi perbaikan sistem untuk waktu yang akan datang diperlukan adanya umpan balik dari petani kepada pihak-pihak yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi

DAFTAR PUSTAKA

Berger CR, Chaffe SH. 1987. Hand Book Of Communication Science. California Sage Publisher.
Berto, D. K. 1960. The Process of Communication. New York - Chichago - San
DeVito, J.A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Edisi Kelima. Hunter College of the City University of New York. Alih Bahasa: Ir. Agus Mauiana MSM, Proofreader Dr. Lyndon Saputra. Jakarta : Professional Books.
Djamani RA., 1999. Analisis Jaringan Komunikasi dalam bisnis sarang Burung Walet di Kabupaten Jember Jawa Timur. Bogor. IPB

Francisco - Atlanta - Dallas - Montreal - Toronto - London — Sidney: Holt, Rinehart and Winston, Inc.
Hanafi, A., 1987. Memasyarakatkan Ide-ide Baru. Surabaya : Usaha Nasional.
Jahi, A. 1988. Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-Negara Dun/a Ketiga. Suatu Pengantar. Jakarta : Gramedia.
Kerlinger, F.N. 1973. Foundation of Behavioral Research. New York: Holt, Rinehart, and Winstone, Inc.
Levis, L.R. 1996. Komunikasi Penyuluhan Pedesaan. Bandung : Cilra Aditya Bakli.
Mardikanto T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Acuan untuk Petajar, Mahasiswa, Dosen, Penyuluh, Pekerja Sosial, Penentu Kebijakan, dan Peminat Ilmu/Kegiatan Penyuluhan Pembangunan. Solo: Sebelas Maret University Press.
Margono, S., 1992. "Perspekttf llmu Penyuluhan Pembangunan Menyongsong Era Tinggal Landas." Penyuluhan Pembangunan di Indonesia Menyongsong Abad XXI. Jakarta: Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.
Pambudy, R., 1S99. "Karakteristik Personal, Periiaku Komunikasi, Perilaku Wirausaha, dan Penyuluhan Da/am Sisiem Aghbisnis Petemakan Ayam.' Disertasi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Press.
Riyanto, S. 1988. "Hubungan beberapa karakteristik Terpilih Penyuluhan Lapangan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Crtanduy dan Kebutuhan Komunikasi Mereka." Thesis Magister Sain. Fakuttas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rogers, EM. 1983 Diffusion Of Innovations. Third Edition. New York : The Free
Rogers, EM., dan D.L. Kincaid. 1981. Communication Networts Toward a New Paradigm for Research. New York : The Free Press.
Rogers, EM., with Floyed F. Shoemaker. 1971. Communication of Innovations: A Cross Cultural Aproach. New York: The Free Press.
Schramm, W. 1973. Men, Message and Media : A look At Human Communication. New York: Harper and Row.
Setiawan, Bambang. 1989. "Pelapisan Sosial dan Janngan Komunikasi ~ Desertasi Doktor. Yogyakarta: Untversttas Gadjah Mada.
Setyanto, A. E. 1993. "Pengaruh Karakleristik Peiani dan Keteriibatannya dalam Jaringan Komunikasi dengan Adopsi Paket Teknologi Supra Insus di Desa Pandeyan, Kecamatan Grogol, Kabupaien Sukoharjo, Jaws Tengah." Thesis Magister Sain. Program Pascasariana Instrtut Pertanjar; Bcgcr. Bcgcr.
Shannon, C.E., dan Weaver, 1949. The Matematical Theory of Communication . New York: Harper and Row

Tubbs, S. L. dan Sylvia Moss. 1996. Human Communication (Konteks-Konteks Komunikasi Buku Ke-2 (Pengantar : Dedy Mulyana). Penerbit : PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

3 comments:

Ians said...

Halo mbak Nia,

Sebelumnya saya mau ngucapin makasih atas ilmu yang mbak berikan di blognya.. (jaringan komunikasi).

Saya mau tanya mbak, bagaimana cara mengolah data analisis jaringan komunikasi?

Saya sudah membuat kuesioner dan telah diisi oleh responden yang saya tuju, tapi meskipun saya sudah membaca langkah2 dan cara bagaimana mengolah data tersebut, namun saya tetap tidak mengerti cara mengolah datanya? Apalagi setelah berhadapan dengan program NEGOPY, makin pusing!!

Mbak Nia, dimana saya harus mencari tempat olah data tersebut??karna sudah saya cari2 tp tidak ada yang bisa...

Tolong Mbak pencerahannya (email: state_of.the_strezz@yahoo.com)...please...: )

Makasih.

Ians

angga madyaratri said...

mbak nia, saya mau mengadakan penelitian dengan analisis jaringan. Minta tolong, untuk bahan referensinya (buku) apa saja? kemudian untuk langkah2 pengolahan data bisa saya lihat di buku apa?
trimakasih..

Alamat said...

Akan lebih baik apabila disertakan juga gambar (sosiogram) supaya jaringan komunikasinya lebih terpetakan. Teruskan berkarya. Salam